Selamat Datang di Blog Bu Dyah SMPN 33 Surabaya

Senin, 19 Maret 2012

Strategi pembelajaran dengan pendekatan CTL mapel IPS topik bermain layang-layang

ABSTRAKSi

Penelitian berupa penelitian tindakan kelas dengan tujuan mengetahui cara melaksanakan strategi dengan pendekatan konstektual untuk meningkatkan nilai peserta didik pada mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang, mengetahui apakah strategi ini dapat meningkatkan proses hasil pencapaian batas penguasaan kompetensi dasar, serta apakah dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat peserta didik. Hipotesis yang diajukan yaitu, pelaksanaan strategi pembelajaran dengan pendekatan konstektual mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang dapat meningkatkan prestasi nilai peserta didik dengan hasil pencapaian batas proses penguasaan kompetensi dasar, serta menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat peserta didik.

Setting penelitian di SMPN 33 Surabaya, kelas VIII F semester ganjil tahun pelajaran 2008-2009. Sumber data penelitian ini yaitu, 38 peserta didik. Prosedur yang dilakukan terbagi dalam bentuk siklus I dan siklus II, dimana setiap siklus terdiri atas empat kegiatan pokok yaitu perencanaan, tindakan pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tindakan dilaksanakan tanggal 8 dan 12 September 2008 untuk siklus I, tanggal 15 dan 19 September 2008 untuk siklus II. Analisis yang digunakan analisis kuantitatif menggunakan skala penilaian dalam bentuk angka atau numerik dengan rentang 0-100 untuk menilai aspek koqnitif, afektif, psikomotor.

Hasil penelitian ini adalah, cara meningkatkan nilai peserta didik mata pelajaran IPS, topik bermain layang-layang dapat dilaksanakan dengan strategi pendekatan konstektual, dapat meningkatkan nilai peserta didik di atas batas penguasaan kompetensi dasar yang ditetapkan yaitu 65, selama pembelajaran terjadi interaksi sosial antara peserta didik dengan peserta didik, antara guru dengan peserta didik, aktifitas pembelajaran berlangsung dalam suasana yang aktif, menyenangkan dan menarik minat peserta didik untuk terus mengikuti kegiatan, sehingga hipotesis bisa di terima.

Masalah yang dihadapi yaitu, sebagian besar peserta didik tidak membawa busur, serta lembar kegiatannya tidak bersih karena banyak stiponya. Ada yang tidak menaikkan layang-layang dengan alasan cuaca panas.

Saran yang diajukan adalah, diperlukan kreatifitas yang tinggi untuk membuat pembelajaran interaktif yang memuat bahan ajar yang runtut dan sesuai dengan konsep yang akan diajarkan. Sebelum pelaksanaan kegiatan, mengarahkan peserta didik untuk membawa alat-alat tulis yang lengkap termasuk busur. Mencari waktu yang tepat, sehingga peserta didik dapat melaksanakan kegiatan menaikkan layang-layang tanpa terkendala dengan alasan cuaca panas.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional diperlukan satu sinergi dari semua komponen pendidikan nasional. Semua komponen pendidikan nasional akan saling kait-mengait dan berpengaruh antara satu dengan yang lainnya.

Menurut Prof. Suyanto, Ph.D., dalam Pembukaan Diklat Integrasi Imtak, 2 Agustus 2005 (Suparlan, 2008: 146) bahwa:

Pendidikan memiliki tiga proses yang saling kait-mengait dan saling pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lain, pertama sebagai proses pembentukan kebiasaan (habit formation), kedua, sebagai proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan ketiga adalah sebagai proses keteladanan yang dilakukan oleh para guru (role model).

Sebagai suatu sistem, sekolah terdiri atas beberapa komponen penting, yakni (1) komponen masukan yaitu, siswa atau peserta didik, (2) komponen masukan instrumental, yaitu kepala sekolah, guru, staf tata usaha, staf pendukung lainnya, kurikulum dan buku pelajaran, serta fasilitas lainnya. Komponen masukan lingkungan adalah lingkungan pendidikan seperti orang tua dan kondisi alam sosial, ekonomi, budaya, serta komponen proses pendidikan. Semua komponen itu saling pengaruh-mempengaruhi, saling kait-mengait, dan saling berinteraksi. Hasil dari interaksi semua itu adalah keluaran (output) dan hasil pendidikan (outcome). Dalam komponen masukan instrumental, guru memiliki peran untuk melaksanakan strategi pembelajaran, dan menggunakan sumber pembelajaran, alat peraga/ media serta mengembangkannya pada setiap proses pembelajaran. Penggunaan sumber belajar bisa diperoleh di sekitar sekolah, atau guru secara aktif dan kreatif menyiapkan, merancang dan membuat media sendiri. Guru juga diharapkan secara kreatif menciptakan strategi pembelajaran yang diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik.

Mata pelajaran IPS terpadu adalah mata pelajaran yang sangat rumit karena luasnya ruang lingkup dan merupakan gabungan dari sejumlah disiplin ilmu yaitu ilmu sejarah, geografi, sosiologi, ekonomi. Salah satu faktor yang ikut menentukan efektifitas pelaksanaan pembelajaran IPS adalah ketepatan penggunaan strategi dan media atau alat bantu pembelajaran, tetapi memilih strategi dan media yang tepat bukan pekerjaan mudah, bahkan sukar untuk memilih suatu strategi dan media tertentu guna mencapai kesesuaian dengan topik tertentu.

Masalah umum yang dihadapi oleh sebagian besar guru pelajaran IPS adalah kurangnya kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan model pembelajaran yang non konvensional yang dapat membangkitkan gairah belajar, mengembangkan seluruh potensi peserta didik, menanamkan kehidupan yang demokratis, dan menjadikan masyarakat sebagai sumber belajar. Kondisi riil saat ini adalah peserta didik belajar dari guru dan buku teks, monolog, dan bersifat rutinitas, kurang variasi, dan miskin improvisasi. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi, guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyiapkan dan merancang model pembelajaran yang akan dilakukannya baik strategi maupun alat peraga/ media.

Proses pembelajaran IPS dengan topik bermain layang-layang akan sangat menarik bagi peserta didik, karena topik ini sangat konstektual, masalah lingkungan terjadi mulai dari lingkungan yang paling dekat dengan peserta didik, yaitu kegiatan permintaan dan penawaran layang-layang pada musim bermain layang-layang, bentuk-bentuk hubungan sosial, hubungan posisi geografis dengan perubahan musim di Indonesia yang semuanya sangat berhubungan dengan keadaan pada saat musim bermain layang-layang.

Dengan adanya permasalahan itulah yang mendasari penulis melakukan kegiatan ini, yaitu agar guru dapat melaksanakan strategi dengan pendekatan konstektual yang tepat yang dapat digunakan pada mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang.

B. Permasalahan

1. Bagaimanakah cara melaksanakan strategi dengan pendekatan konstektual untuk meningkatkan nilai peserta didik pada mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang?

2. Apakah pembelajaran mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang setelah menggunakan strategi dengan pendekatan konstektual dapat meningkatkan proses dan hasil pencapaian batas penguasaan kompetensi dasar?

3. Apakah melalui strategi dengan pendekatan konstektual mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat peserta didik?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui cara melaksanakan strategi dengan pendekatan konstektual untuk meningkatkan nilai peserta didik pada mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang

2. Mengetahui apakah melalui strategi dengan pendekatan konstektual dapat meningkatkan proses dan hasil pencapaian batas penguasaan kompetensi dasar pada pembelajaran mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang

3. Mengetahui apakah melalui strategi dengan pendekatan konstektual mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat peserta didik

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis:

Merupakan alat untuk mengembangkan diri sebagai guru yang profesional

2. Bagi Guru:

a. Dapat menutupi kekurangan proses pembelajaran IPS selama ini, yakni dalam keterampilan melaksanakan strategi dengan pendekatan konstektual yang dapat memotivasi dan menggairahkan belajar peserta didik

b. Sebagai masukan guna merancang dan mendapatkan strategi dan media pembelajaran yang tepat

3. Bagi Peserta Didik:

a. Memotivasi dan meningkatkan semangat peserta didik dalam pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM)

b. Mendekatkan konsep yang dipelajari pada obyek secara nyata

c. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan daya nalar peserta didik yang kreatif dan kritis-analitik sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik

4. Bagi Peneliti Lanjutan:

Dapat dijadikan rujukan dalam melakukan penelitian tindakan kelas lanjutan

E. Hipotesis Tindakan

Pelaksanaan strategi pembelajaran dengan pendekatan konstektual mata pelajaran IPS topik bermain layang-layang dapat meningkatkan nilai peserta didik dengan hasil pencapaian batas proses penguasaan kompetensi dasar serta menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat peserta didik

F. Penegasan Istilah

1. Strategi Pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran yang meliputi pemilihan model, pendekatan, motode, pemilihan format, yang dipandang mampu memberikan pengalaman yang berguna untuk mencapai kompetensi dasar

2. Pendekatan konstektual adalah pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk memilih dan merencanakan kegiatan belajar berdasarkan bahan kajian yang sesuai dengan komponen konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.

3. Mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran ilmu-ilmu sosial di SMP dan MTs, terdiri dari mata pelajaran sosiologi, geografi, sejarah, ekonomi

4. Topik bermain layang-layang adalah kegiatan pembelajaran yang mengangkat topik posisi geografis dengan perubahan musim di Indonesia yang dapat digunakan untuk jual/beli layang-layang dan bermain layang-layang, dilakukan dalam bentuk hubungan sosial dengan sesama teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar